Kazuyoshi Miura Jadi Kakek Sepak Bola Saat Ini

Beritaterselubung.com – Sampai umur 1/2 era lebih, tidak ada yang dapat hentikan Kazuyoshi Miura untuk masih selalu lari diatas lapangan hijau serta berupaya keras cetak gol untuk persembahkan kemenangan buat timnya. Bahkan juga, buat Kazuyoshi, umur mungkin cuma hanya bilangan angka yang seakan tidak mempunyai dampak pada kecintaannya pada sepak bola.

Mukanya memang tidak tampak muda kembali, rambutnya juga telah didominasi warna putih. Begitupun barisan rambut pendek dibawah dagunya. Tampak jelas bagaimana umur sudah merubah penampilan fisik Kazuyoshi. Tubuh serta posturnya mungkin tidak setegap pertama kalinya mengawali karir profesional pada 1986, atau seputar 33 tahun kemarin.

Akan tetapi, semuanya tidak hentikan ‘King Kazu’, julukan Kazuyoshi, untuk berhenti lari serta akan memutuskan gantung sepatu. Di umur 51 tahun, Kazuyoshi terima perpanjangan kontrak dari klubnya yang berkomptisi di strata dua Liga Jepang, Yokohama FC, akhir minggu kemarin. Club yang sudah dibelanya semenjak 2005 yang lalu itu memberi perpanjangan kontrak saat setahun.

Sekarang ini, Kazu terdaftar menjadi pemain paling tua yang tampil di arena sepak bola profesional dunia, dengan umur 51 tahun 11 bulan. Bulan kedepan, bekas striker tim nasional Jepang itu akan genap berumur 52 tahun. Dengan perpanjangan kontrak saat setahun bersama dengan Yokohama FC, Kazuyoshi semakin menajamkan rekornya menjadi pemain paling tua yang tampil di arena sepak bola profesional seantaro planet ini.

Rekor ini sudah dipegangnya semenjak 2017 yang lalu. Saat itu dia memecahlan rekor pesepak bola asal Inggris, Stanley Matthews, sebagai pemain profesional paling tua dalam umur 49 tahun 14 hari.

Bukan sekedar dalam soal umur, Kazuyisho pun pecahkan rekor Stanley menjadi pembuat gol paling tua di arena sepak bola profesional. Catatan ini dia bukukan waktu dapat menyarangkan gol kemenangan Yokohama FC atas Thespa Kusatsu di arena divisi ke-2 Liga Jepang, 2017 yang lalu. Saat itu usinya sudah mencapai 50 tahun 14 hari. Bukan mustahil, rekor ini akan kembali pecah pada setahun yang akan datang.

King Kazu juga belum juga punya niat untuk melepas tahtanya, serta berkemauan untuk tampil sebanyak-banyaknya di laga-laga Yokohama FC di semua arena. ”Saya sudah perpanjang kontrak sampai akhir 2019. Saya akan berupaya tampil sebanyak-banyaknya. Saya akan tidak menyia-nyiakan satu detik juga peluang untuk tampil,” kata Kazuyoshi dalam info sah, seperti diambil AFP, tempo hari.

Pada musim kemarin, Kazuyoshi tampil saat 56 menit dalam sembilan pertandingan bersama dengan Yokohama FC di semua arena domestik. Sayangnya, pemain yang memulai karir di club Brasil, Santos, itu tidak berhasil cetak gol buat timnya. Walau demikian, hanya satu pemain yang masih tetap aktif semenjak Liga Jepang beralih format pada 1993 itu tidak putus keinginan berkaitan kekuatannya dalam cetak gol. ”Saya akan berupaya keras serta menggerakkan potensi saya sampai ke batas optimal, bukan sekedar di laga, tetapi pun di session latihan,” tutur Kazuyoshi.

Saat 34 tahun karir profesionalnya, Kazuyoshi memang sudah banyak makan asam-garam. Pada umur 15 tahun, Kazuysohi pindah ke Brasil untuk menimba pengetahuan serta meniti karir profesional. Karir profesionalnya juga diawali pada 1986 di Santos. Menjadi perbandingan, waktu salah satunya pemain terunggul dalam dunia sekarang ini, Lionel Messi, baru berumur setahun, Kazuyoshi telah berjibaku diatas lapangan hijau.

Bukan sekedar di Brasil atau Jepang, Kazuyoshi sempat juga mencicip kerasnya pertandingan di Eropa. Petualngannya di Benua Biru terukir waktu melakukan waktu peminjaman di Genoa di arena Liga Italia. Selang beberapa saat dia geser ke Ibu Kota Kroasia untuk menguatkan Dinamo Zagreb. Peluang berkiprah di Benua Biru ini didapatkan Kazuyoshi selesai mengantar Tokyo Verdy mencapai gelar J-League dalam empat musim berturut-turut.

Waktu menguatkan Zagreb, Kazuyoshi sudah sempat persembahkan gelar kejuaraan domestik pada musim 1998/1999. Sesudah menguatkan Zagreb, Kazuyoshi pada akhirnya kembali pada Jepang serta membela Kyoto Purple Sanga pada 1999. Lantas, selesai sudah sempat bermain untuk Vissel Kobe saat empat tahun, King Kazu pada akhirnya berlabuh di Yokohama FC pada 2005.

Di Yokohama FC, pemain yang sukses mengantar Jepang memenangkan Piala Asia pada 1992 itu sukses persembahkan gelar J2 League pada 2006 untuk promo ke strata pertandingan paling tinggi. Akan tetapi, parahnya keadaan keuangan club membuat Yokohama kembali terlempar ke divisi ke-2. Pada musim kemarin, Yokohama sebetulnya mempunyai peluang untuk kembali pada J-League, tetapi kalah di set play off. Pada musim ini, Yokohama FC akan kembali memerankan pertandingan perdana di J2-League di akhir Februari yang akan datang.

Berkaitan kedatangan Kazuyoshi di timnya, pelatih Yokohama FC, Edson Tavares, menyatakan, akan tidak memaksakan untuk selalu turunkan Kazuyoshi di tiap-tiap pertandingan. Menurut pelatih dari Brasil itu, pemain yang sukses membawa Jepang maju ke putaran final Piala Dunia untuk kali pertamanya pada 1998 itu malah dapat memberi motivasi serta ide pada beberapa pemain muda Yokohama FC.

“Waktu Anda berumur 51 tahun, kesehatan adalah perihal susah. Anda dapat kehilangan tenaga. Saya telah jujur pada ia, saya akan turunkan ia waktu diperlukan. Akan tetapi, hadirnya tambah lebih terpenting untuk kami, dalam soal motivasi pemain. Sepak bola Jepang perlu contoh serta teladan dalam soal profesionalitas pemain. Kazu memberi contoh yang baik, menggerakkan pemain, serta memberi movitasi pada pemain lainnya,” tutur Edson.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *